Never Ending Stories

Coba mempraktekkan “Tak Menanti Sempurna”

mencoba memulai

Merasa tidak pantas. Itulah yang kurasa waktu diminta Bu’E, salah satu redaksi media internal gereja Parung, untuk menulis renungan berdasarkan salah satu ayat di Alkitab. Hidup masih begini-begini aja, belum ada prestasi besar yang dicapai, tidak ada background pendidikan teologis,  udah berani nulis renungan? Hmm..

Teringat slogan “Tak Menanti Sempurna”. Kapan kita akan berkarya kalau terus menunggu untuk jadi “sempurna”? Mother Teresa sewaktu memulai karyanya, tidak menunggu sampai dia punya uang banyak untuk menolong orang miskin di India.

“Ayo, Hill! Nulis! Jangan lihat ketidaksempurnaan, tapi lihat apa yang ingin dipersembahkan melalui tulisan”, kata-kata itu terus terbersit di pikiranku, entah dari mana..

Sebelum menulis renungan, aku berdoa, “Tuhan, tulisan ini bukan untuk menasehati (karena aku bukan siapa-siapa), tapi supaya umat lebih bijak berdoa kepadaMu.”

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.