Merasa tidak pantas. Itulah yang kurasa waktu diminta Bu’E, salah satu redaksi media internal gereja Parung, untuk menulis renungan berdasarkan salah satu ayat di Alkitab. Hidup masih begini-begini aja, belum ada prestasi besar yang dicapai, tidak ada background pendidikan teologis, udah berani nulis renungan? Hmm..
Teringat slogan “Tak Menanti Sempurna”. Kapan kita akan berkarya kalau terus menunggu untuk jadi “sempurna”? Mother Teresa sewaktu memulai karyanya, tidak menunggu sampai dia punya uang banyak untuk menolong orang miskin di India.
“Ayo, Hill! Nulis! Jangan lihat ketidaksempurnaan, tapi lihat apa yang ingin dipersembahkan melalui tulisan”, kata-kata itu terus terbersit di pikiranku, entah dari mana..
Sebelum menulis renungan, aku berdoa, “Tuhan, tulisan ini bukan untuk menasehati (karena aku bukan siapa-siapa), tapi supaya umat lebih bijak berdoa kepadaMu.”


Apa kata teman-teman