Never Ending Stories

Siap-siap buat kosongkan jadwal di tanggal 14 November 2019. Ada kejutan manis dari deretan kondang, Acha Septriasa, Deva Mahenra, Adinda Thomas, Chiki Fawzi, Susan Sameh, Dzawin, Robby Purba, hingga Ayana Moon!

Balutan manis tulisan karya Garin Nugroho dan arahan sutradara Danial Rifki, membuat film 99 Nama Cinta sangat pantas jadi tontonan wajib. Unsur religi yang dibalut kisah tokoh-tokoh 2 dunia antara kehidupan bidang entertainment dan lingkungan pesantren, secara realita mengembangkan cerita di film 99 Nama Cinta ini sangat kaya akan makna. Peran Acha Septriasa sebagai presenter infotainment dan Deva Mahendra sebagai Ustaz, menjadikan dua sudut pandang yang berbeda serta konflik-konflik yang dibangun sangat menarik untuk disaksikan.

Ayo kapan lagi nonton film Indonesia yang sangat komplit pake banget! Ditambah lagi kejutan dari Dzawin yang pastinya kocak abis. Oiya.. ada hastag baru lho.. “Kalau cemburu jangan terlalu, nanti jadi rindu” 

99 Nama Cinta

Hangatnya topik konflik di Papua tidak menyurutkan salah satu Mutiara dari Timur untuk terus bersinar. Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak periode 2014-2019, tidak hanya membanggakan orang-orang Papua, tapi juga menginspirasi wanita, bahwa kaum hawa, apalagi dari Timur Indonesia, sangat bisa menyandang Gelar Profesor dan Doktor.

Peluncuran Buku Dunia Yohana

Ibu Menteri yang sering disapa Mama Yo ini juga merupakan pejabat kedua setelah Presiden Soekarno, yang mengunjungi Afganistan di tahun 1961. Tidak hanya menyambangi, beliau juga menjadi pembicara pada “Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace” pada 15-16 Mei 2017 lalu, untuk mendukung wanita di sana untuk membangun negaranya.

Sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, beliau mengangkat peranan wanita untuk berdaya membangun diri dan masyarakat dengan Metode 1 Tungku 3 Pilar.

“Tungku yang berarti dapur dan pilar yang berarti tiang pondasi. Menyaratkan bahwa di dalam 1 tujuan pemberdayaan wanita ada 3 pilar yang mendukung : Pemerintah, Dewan / Kepala Adat dan Agama. Pemerintah daerah tidak bisa berusaha sendiri, harus didukung oleh Kepala Adat dan Agama. Ketiga pilar

Dr. Ir. Pribudiarta Nur Sitepu, Sekertaris Kementrian PPPA

ini harus bersinergi untuk “menyelamatkan” Indonesia. Wanita dianggap sangat berperan sebagai “Agen Penyelamat Indonesia” sebut Dr. Ir. Pribudiarta Nur Sitepu, Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Contohnya, jika Pemerintah menemukan adanya kasus kekerasan kepada wanita atau anak-anak, tidak hanya melihat kejadian ini dari sisi hukum, tetapi sudut pandang adat dari Ketua Adat dan sudut pandang Agama, dalam hal ini Gereja di Papua harus turun tangan untuk menangani ini. Perempuan yang dianggap lemah dari sisi hukum, harus dianggap bukan hanya pelengkap tetapi harus didukung sebagai orang yang berharga di mata adat dan di mata Agama.

Dalam hal ini, Mama Yo juga menyebutkan bahwa kita harus mengakhiri 3 ends : Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, Akhiri perdagangan manusia dan Akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan.

Akan banyak mutiara yang bersinar dari kaum wanita di Timur, jika kita sejak sekarang mendukung 3 ends dan berpola pikir menyetarakan kaum hawa di kehidupan kita.

 

Sumber :

https://nasional.kompas.com/read/2017/05/19/16263321/menteri.yohana.saya.menteri.pertama.yang.ke.afghanistan

Event Peluncuran Buku Dunia Yohana, 17 Oktober 2019 di Jakarta.

 

Tujuan Akhir

Banyak teori dan pengalaman tentang kejadian setelah kematian. Pada dasarnya, tulisan ini adalah pengamatan dan pengalaman pribadi yang dirasakan penulis..

Pada saat misa untuk mengenang salah satu warga lingkungan yang meninggal, Pastor kami memberikan renungan yang membekas di ingatan.

Melepas kehidupan orang yang kita cintai, seperti melihat kapal yang meninggalkan pelabuhan. Sebelum kapal berangkat, kita melihat kapal itu seutuhnya: sesuai ukuran sebenarnya. Sewaktu kapal itu menjauh,  akan kelihatan kecil dan lama-kelamaan akan menghilang.

Tapi di seberang sana, di tempat tujuan, sudah ada orang-orang yang menunggu. Mereka menjemput kapal yang berangkat dari pelabuhan tempat kita melepasnya. Melihat kapal yang tadinya hanya berupa titik hitam, membesar seukuran telapak tangan, lama-kelamaan menjadi utuh. Lalu mereka menyambutnya dengan bahagia.

Dari kita mungkin ada yang putus asa, mengharapkan kembalinya orang yang sudah “pergi”. Tapi banyak juga yang berharap, mereka sudah sampai di tempat tujuan.. Dan bahagia di sana. Mendoakan kita yang masih berziarah di sini.

Bagi pecinta kuliner yang seneng sama daging si mbek.. Kudu nyoba menu yang satu ini: Gulai Kambing H. Fadil.

Gerobak sederhana yang mangkal di pinggir fly over Karet, Sudirman, Jakarta Selatan.. cenderung kumuh dan tidak kelihatan jelas dari jalan. Tapi rasanya… gak ada lawannya! Potongan daging, otak dan jeroan dalam satu piring kuah pedes tanpa santan, bener-bener buat nagih.

Rasanya juara!

Terkesan Kumuh, tapi rasanya bikin nagih

Di penghujung tahun 2018 ini, banyak acara besar terlewatkan: Asian Games, Java Jazz, bahkan ulang tahunku sendiri. Puji Tuhan untuk Natal tahun ini, Dia masih kasih saya kesempatan untuk mengenang kelahiranNya.

Dalam Katolik, untuk acara-acara besar seperti Natal dan Paskah, kami disarankan untuk “menyiapkan” diri, salah satunya dengan mengikuti Sakramen Tobat atau pengakuan dosa. Pas banget, dekat kantor ada Gereja Santa dan saya sempatkan untuk ikut pengakuan dosa di sana. Pas banget, mengaku dosa dengan Pastor Yohanes Sudrijanta. Beliau salah satu Pastor yang belajar dan praktek tentang meditasi.

Di dalam nasihatnya (dan penitensi), Pastor mengajak saya untuk melihat 3 hal negatif yang merupakan akar dari dosa: kebencian, sikap tidak perduli dan nafsu. Kita harus melepas tiga hal tersebut. Bagaimana melepasnya, Pastor merekomendasikan tulisan nya untuk direnungkan. https://meditativestate.wordpress.com/2015/04/13/menyentuh-hakikat-keberadaan-kita-yang-paling-dalam-dan-menemukan-kedamaian-di-hati/

Inilah jawaban yang kutunggu-tunggu. Penantian lama dalam pengalaman-pengalaman iman yang sudah lama kucari. Terima kasih Tuhan. Dalam tahun ini, Engkau masih memberi rahmat pengampunan dan jawaban atas doaku.

Semoga di tahun 2019, Tuhan memberikan banyak rahmat, kesehatan, prestasi, keselamatan dan jawaban atas doa kita.

Resolusi Di Tahun 2019

Semalam chat dengan sahabat lama, iseng-iseng dia tanya.
“2019 mau bikin resolusi apa, Hils?”

Iya, ya, kenapa gak kepikiran?

Setelah nego-nego kegiatan yang realistis bisa dikerjakan, akhirnya tersebutlah tiga resolusi ini untuk 2019:
1. Pantang nasi seminggu 2 kali: Senin dan Kamis
2. Olahraga seminggu sekali: 30 menit
3. Tulis blog seminggu sekali: minimal 1.000 karakter

Untuk nomor 1 dan 2, dikerjakan bareng-bareng.
Dimulai tanggal 15 Desember 2018.

Doakan kami, ya!
#pakeNadaTakeshiCastle
#resolusi2019

Sekarang teman-teman netizen bisa menikmati sensasi baru dunia kuliner di selatan Jakarta, tepatnya di Lembur Kuring Cabang Parung.

Menyantap masakan khas Sunda dengan pemandangan danau alami, membuat kita mager sangking nikmatnya..

View danau alami

Colenak (tape bakar)

Dibuka dengan Colenak (tape bakar) dilengkapi madu. Lidah terasa dimanja dan ingin nambah dengan yang lain. Datanglah Nasi Liwet lengkap dengan topping ikan teri dan cabai, Bakwan Jagung yang endess, Mujair Bumbu Kuning dan Udang Bakar Saos Madu yang menggugah selera.

Mujair Bumbu Kuning

Bakwan Jagung

Udang Saos Madu

 

 

 

 

 

 

 

Bubur Goreng khas Lembur Kuring

Pisang Goreng Bola-bola

Ikan Patin Masak Bambu

Cumi Saos Madu

Bagi yang ingin sensasi baru, wajib coba Cumi Saos Mangga, Ikan Patin Bambu dan Bubur Goreng khas Lembur Kuring. Ikan Patin nya lembut dan kering, yummy banget! Apalagi Bubur Goreng khas Lembur Kuring, ada kejutan di tengah nya. Lagi asik-asik makan bubur, dapat kejutan kuning telur di dalam bubur.. wow endess. So, temen-temen yang lagi ke Selatan, mampir-mampir ke Lembur Kuring cabang Parung.

 

 

 

 

Bersama temen-temen Blogger Bogor

Tampak depan