Never Ending Stories

Tujuan Akhir

Banyak teori dan pengalaman tentang kejadian setelah kematian. Pada dasarnya, tulisan ini adalah pengamatan dan pengalaman pribadi yang dirasakan penulis..

Pada saat misa untuk mengenang salah satu warga lingkungan yang meninggal, Pastor kami memberikan renungan yang membekas di ingatan.

Melepas kehidupan orang yang kita cintai, seperti melihat kapal yang meninggalkan pelabuhan. Sebelum kapal berangkat, kita melihat kapal itu seutuhnya: sesuai ukuran sebenarnya. Sewaktu kapal itu menjauh,  akan kelihatan kecil dan lama-kelamaan akan menghilang.

Tapi di seberang sana, di tempat tujuan, sudah ada orang-orang yang menunggu. Mereka menjemput kapal yang berangkat dari pelabuhan tempat kita melepasnya. Melihat kapal yang tadinya hanya berupa titik hitam, membesar seukuran telapak tangan, lama-kelamaan menjadi utuh. Lalu mereka menyambutnya dengan bahagia.

Dari kita mungkin ada yang putus asa, mengharapkan kembalinya orang yang sudah “pergi”. Tapi banyak juga yang berharap, mereka sudah sampai di tempat tujuan.. Dan bahagia di sana. Mendoakan kita yang masih berziarah di sini.

Advertisements

Bagi pecinta kuliner yang seneng sama daging si mbek.. Kudu nyoba menu yang satu ini: Gulai Kambing H. Fadil.

Gerobak sederhana yang mangkal di pinggir fly over Karet, Sudirman, Jakarta Selatan.. cenderung kumuh dan tidak kelihatan jelas dari jalan. Tapi rasanya… gak ada lawannya! Potongan daging, otak dan jeroan dalam satu piring kuah pedes tanpa santan, bener-bener buat nagih.

Rasanya juara!

Terkesan Kumuh, tapi rasanya bikin nagih

Di penghujung tahun 2018 ini, banyak acara besar terlewatkan: Asian Games, Java Jazz, bahkan ulang tahunku sendiri. Puji Tuhan untuk Natal tahun ini, Dia masih kasih saya kesempatan untuk mengenang kelahiranNya.

Dalam Katolik, untuk acara-acara besar seperti Natal dan Paskah, kami disarankan untuk “menyiapkan” diri, salah satunya dengan mengikuti Sakramen Tobat atau pengakuan dosa. Pas banget, dekat kantor ada Gereja Santa dan saya sempatkan untuk ikut pengakuan dosa di sana. Pas banget, mengaku dosa dengan Pastor Yohanes Sudrijanta. Beliau salah satu Pastor yang belajar dan praktek tentang meditasi.

Di dalam nasihatnya (dan penitensi), Pastor mengajak saya untuk melihat 3 hal negatif yang merupakan akar dari dosa: kebencian, sikap tidak perduli dan nafsu. Kita harus melepas tiga hal tersebut. Bagaimana melepasnya, Pastor merekomendasikan tulisan nya untuk direnungkan. https://meditativestate.wordpress.com/2015/04/13/menyentuh-hakikat-keberadaan-kita-yang-paling-dalam-dan-menemukan-kedamaian-di-hati/

Inilah jawaban yang kutunggu-tunggu. Penantian lama dalam pengalaman-pengalaman iman yang sudah lama kucari. Terima kasih Tuhan. Dalam tahun ini, Engkau masih memberi rahmat pengampunan dan jawaban atas doaku.

Semoga di tahun 2019, Tuhan memberikan banyak rahmat, kesehatan, prestasi, keselamatan dan jawaban atas doa kita.

Resolusi Di Tahun 2019

Semalam chat dengan sahabat lama, iseng-iseng dia tanya.
“2019 mau bikin resolusi apa, Hils?”

Iya, ya, kenapa gak kepikiran?

Setelah nego-nego kegiatan yang realistis bisa dikerjakan, akhirnya tersebutlah tiga resolusi ini untuk 2019:
1. Pantang nasi seminggu 2 kali: Senin dan Kamis
2. Olahraga seminggu sekali: 30 menit
3. Tulis blog seminggu sekali: minimal 1.000 karakter

Untuk nomor 1 dan 2, dikerjakan bareng-bareng.
Dimulai tanggal 15 Desember 2018.

Doakan kami, ya!
#pakeNadaTakeshiCastle
#resolusi2019

Sekarang teman-teman netizen bisa menikmati sensasi baru dunia kuliner di selatan Jakarta, tepatnya di Lembur Kuring Cabang Parung.

Menyantap masakan khas Sunda dengan pemandangan danau alami, membuat kita mager sangking nikmatnya..

View danau alami

Colenak (tape bakar)

Dibuka dengan Colenak (tape bakar) dilengkapi madu. Lidah terasa dimanja dan ingin nambah dengan yang lain. Datanglah Nasi Liwet lengkap dengan topping ikan teri dan cabai, Bakwan Jagung yang endess, Mujair Bumbu Kuning dan Udang Bakar Saos Madu yang menggugah selera.

Mujair Bumbu Kuning

Bakwan Jagung

Udang Saos Madu

 

 

 

 

 

 

 

Bubur Goreng khas Lembur Kuring

Pisang Goreng Bola-bola

Ikan Patin Masak Bambu

Cumi Saos Madu

Bagi yang ingin sensasi baru, wajib coba Cumi Saos Mangga, Ikan Patin Bambu dan Bubur Goreng khas Lembur Kuring. Ikan Patin nya lembut dan kering, yummy banget! Apalagi Bubur Goreng khas Lembur Kuring, ada kejutan di tengah nya. Lagi asik-asik makan bubur, dapat kejutan kuning telur di dalam bubur.. wow endess. So, temen-temen yang lagi ke Selatan, mampir-mampir ke Lembur Kuring cabang Parung.

 

 

 

 

Bersama temen-temen Blogger Bogor

Tampak depan

Ok.. Ok.. mestinya Batman Vs Superman : Dawn of Justice. Saya me-review film ini dengan sudut pandang lain : No Woman No Cry.

CcqN_wkUAAAmL14Se-macho-macho-nya Batman dan se-kuat-kuat-nya Superman, tetep luluh sama yang namana wanita. Sisi manusia dari kedua super hero kita yang dua ini memang sangat terlihat. Di adegan Batman yang tinggal sedikit lagi membunuh Superman, tiba-tiba terhenti. Karena Superman menyebutkan satu nama wanita : Martha. Nama ibunya Superman yang sama dengan nama ibunya Batman. Superman menyebut nama ibunya yang disandera Lex Luthor untuk ditebus dengan kematian Batman. Mendengar nama itu Batman langsung teringat dengan mendiang Ibunya.

LEGO-Batman-v-Superman-600x324Ada lagi Lois Lane. Sisi humanis dari Superman selalu ditunjukkan di hadapan pacarnya, Lois Lane.  Ditambah lagi hadirnya Wonder Woman yang misterius (itu cewek, kucluk-kucluk muncul tanpa background yang jelas), yang membuat Mas Bruce Wayne pusing pala barbie.. 😛

BTW, film ini lain banget sama cerita di clip- trailer-nya. Pada cuplikan film-nya, kita dibawa untuk membenci Superman dan membela Batman. Padahal waktu kita menonton filmnya secara utuh, Lex Luthor yang mengadu domba mereka berdua. Salut buat mar-comm-nya DC.

 

Tak Hanya Dinyanyikan

Saya ingat khotbah mendiang Romo Remi  tentang melayani.

“Melayani Tuhan itu bukannya aktif di gereja dari pagi sampai sore, tapi di rumah anaknya kelaparan karena orang tuanya tidak masak. “ katanya sambil berapi-api. “Melayani itu ya, berbuat sesuatu di keluarga, di sekolah, di tempat kerja, di semua lingkungan keseharian kita.”

Setelah mendengar khotbah Romo Remi, saya sejenak berpikir. “Iya ya, di gereja saya aktif pelayanan di paduan suara. Bernyanyi yang indah-indah tentang kasih, pengorbanan & rahmat Tuhan. Tapi kehidupan saya, masih jauh dari syair lagu-lagu rohani yang kami senandung kan.”

Paduan Suara Gema Serafim. Foto jadul

Paduan Suara Gema Serafim. Foto jadul

Waktu misa menyanyi : Seperti rusa rindu sungai Mu, jiwaku rindu Engkau..  Kelar misa, boro-boro rindu Tuhan, kalau makan lupa berdoa, pas mau tidur, bablas aja langsung nyenyak, bukannya berdoa dulu. Di paduan suara bernyanyi: Kasih.. itu sabar, murah hati.. Setelah selesai koor, tetep lho kembali ke sifat asalku: gak sabaran & bawaannya marah-marah.

Khotbah Romo Remi mengingatkan-ku untuk bernyanyi tak hanya dalam bait, tetapi dalam perbuatan. Melayani tak hanya dalam gereja tetapi lebih luas dari itu: melayani dalam kehidupan.

In memoriam : Pastor Remigius Ismail Sene SVD, 20/12/2014 di Jakarta.