Never Ending Stories

Solo.. Udah lama banget gak ke kota ini. Setahuku belum ada mall waktu itu. Tapi bukan mall yang jadi targetku ke sana, survey gereja dan gedung yang bakal jadi sejarah baruku.

Tak lupa: kuliner!!

Sate gembus. Terbuat dari ampas tahu. Dikecapin trus dibakar. Tak lupa bumbu kacang yang kental + cabe bawang khas Solo.

 

 

 

 

 

 

Soto Sore. Maknyus + sueger tenan! Soto bening ditabur ayam suir dan toge, dengan pilihan tambahan sate jeroan atau sate telur puyuh.

 

 

 

 

 

 

Mie ayam pinggir sawah. Yup! Bener-bener pinggir sawah dan bener-bener enak. Rasa bawang di kuah nya bener-bener kerasa. Gak banyak pake bumbu atau penyedap rasa buatan. Seger banget rasanya.

mencoba memulai

Merasa tidak pantas. Itulah yang kurasa waktu diminta Bu’E, salah satu redaksi media internal gereja Parung, untuk menulis renungan berdasarkan salah satu ayat di Alkitab. Hidup masih begini-begini aja, belum ada prestasi besar yang dicapai, tidak ada background pendidikan teologis,  udah berani nulis renungan? Hmm..

Teringat slogan “Tak Menanti Sempurna”. Kapan kita akan berkarya kalau terus menunggu untuk jadi “sempurna”? Mother Teresa sewaktu memulai karyanya, tidak menunggu sampai dia punya uang banyak untuk menolong orang miskin di India.

“Ayo, Hill! Nulis! Jangan lihat ketidaksempurnaan, tapi lihat apa yang ingin dipersembahkan melalui tulisan”, kata-kata itu terus terbersit di pikiranku, entah dari mana..

Sebelum menulis renungan, aku berdoa, “Tuhan, tulisan ini bukan untuk menasehati (karena aku bukan siapa-siapa), tapi supaya umat lebih bijak berdoa kepadaMu.”

17an Yang Ter-unik

Gimana gak unik..

Malemnya tanggal 16 udah latian paduan suara sampe jam 10 malem, eh paginya gak jadi mengiringi kebaktian. Padahal anggota koor dan umat sudah pada datang. Gara-garanya kebaktian nya udah dimulai sejam sebelumnya tanpa ada konfirmasi. Kepalang tanggung udah latian, akhirnya kita pun menyanyi tanpa ada umat.. hehehe..

Ada nih videonya.. lkik di sini

Tetap semangat!

Baru kali ini pula, tiup lilin kue ultah untuk RI. Kue nya pun unik, susunan kue kelapa merah putih.

Tak lupa bernarsis-narsis ria

Cheers!!

Btw, 17 Agustus yang tahun lalu, ketemu dengan kekasih hati :)

Suffering For Love

The Right Kind Of Suffering

The Christian life is a life of suffering.
But not suffering for suffering’s sake.
But suffering for the sake of love!
Last week, my wife went shopping. And because we were on vacation, she asked me to go with her. To me, shopping is listed in my “Least Liked Activities In The World”, together with “dental root canal without anesthesia” and “tied to a tree while being attacked by an army of giant African red ants.”
So there I was, walking behind her, carrying her shopping bags. Sometimes, she’d turn around to show me two similar items and ask me,

“Which should I buy?” I tell her, “Buy both. And let’s go home.” But of course, she wouldn’t do that. She’d keep looking and comparing and searching for two more hours.
Am I suffering? You bet.
But to be honest, it was sweet, lovely, glorious suffering. Suffering I actually enjoy. Because I’m with the woman of my dreams, my jewel, my princess.
The same thing happens with my kids.
My little boy Francis knows when his father is super busy. He somehow senses when I’m writing a big project with a very tight deadline. When he knows I’m super busy, he comes up to me and asks me, “Daddy, can you play with me?”
I close my computer and play with my son.
Am I suffering? You bet.

But again—it’s the kind of suffering I love. Because I love little Francis.
Real love can only be proven by suffering. This is the suffering that’s pleasing to God. The suffering that’s actually not suffering, because it’s done with joy.
Correct your belief about the Christian life.
And enjoy your blessings!

-Bo Sanchez-

http://bosanchez.ph/do-you-enjoy-god%E2%80%99s-blessings/

Ketika kau melakukan perjalanan, kau akan merasakan suatu kelahiran baru … berhadapan dengan situasi-situasi baru.. orang-orang yang berbahasa asing…
Hal-hal di sekitarmu akan menjadi lebih penting karena kelangsungan hidupmu tergantung pada hal-hal tersebut.
Kau akan lebih terbuka terhadap orang lain, karena mungkin mereka akan bisa membantumu dalam kesukaran.
Dan kau akan menerima setiap karunia Tuhan dengan kebahagiaan tiada tara,
seakan-akan karunia itu adalah salah satu episode terpenting dalam hidupmu.
“Di saat yang sama, karena segala sesuatu terasa baru,

kau hanya akan melihat keindahan, dan kau akan merasa bahagia bisa hidup.

-Paulo Coelho- The Pilgrimage

www.allhealthyrecipes.net

Kedai di depan kantor punya menu baru, namanya Morning Glory. Jus campuran antara strawberry, nanas & sirsak. Karena penasaran sama campuran yang gak biasa ini, iseng aja mesen pas makan siang. Ternyata eh ternyata.. MAKNYUS pemirsa!! Gak manis-manis banget. Perpaduan asem strawberry, manis & aroma nanas, serta rasa sirsaknya, bikin seger & netralisir rasa eneg kalo abis makan santen atau gorengan.
Oiya, nama kedainya, Rice box. Adanya di Jl. Tanjung Duren Barat II, seberang BRI, setelah Circle K.

Yiiihaa..!! Nulis kuliner lagi neh..

Interior masakan Sunda tapi rasa Eropa

Direcommend sama penunggu Bellanova Country Mall untuk cobain pizza di Kedai Kita. Ngeliat interior nya, kok gak kayak restoran pizza ya?Eits.. don’t judge the book by its cover.

 

 

 

 
Pizza nya bo.. Lekker bin nambah!Baunya itu lho yg bikin ngiler. Dipanggang di oven gede pake kayu bakar.Bikin aroma tungku plus bakaran daging plus lelehan keju..hmmm…Adonan nya tipis, mirip2 aslinya dari Itali.

Maknyus, pemirsa!

Direcomend juga untuk cobain jus sirsak nya. Biasanya asemnya sirsak kerasa kalo di jus.Ini nggak lho.. asem nya ilang! (Gone.. gone.. gone.. *soundtrack Tantowi Yahya*) Ajib euy..
Tambah nikmat pas liat view pepohonan di sekeliling resto.
Emang sih, tempat nya rada mojok, deket hypermart. Tapi rasanya, bung! Mantaps!

Menyempatkan duduk tenang menikmati matahari terbenam

Malam Apresisasi Seni, 12 Desember 2010, di SKI, Bogor

Sangat terkesan membaca pesan di fesbuk dari Bu Elmi agar saya menuliskan kesan setelah melihat pentas seni dan pameran hasil karya murid-murid SLB (B dan C). Tema yang diusul beliau pun membuatku tertegun : “melihat kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan”

Memang baru pertama kali ini saya melihat langsung pameran hasil karya dan aksi panggung dari murid SLB. Jujur, kesan yang melekat bahwa mereka tidak normal dan perlu perlakuan khusus, masih terbersit di pikiran. Apalagi melihat mereka berbicara dengan bahasa isyarat. Tapi sangat lain rasanya ketika berinteraksi dengan mereka.

Yanto dan Suster pembimbing

Dengan bantuan Suster Irene, saya diajak untuk berbicara sama Yanto, salah satu murid SLB B Pangudi Luhur, Jakarta. Suster mengatakan bahwa Yanto yang tuna rungu sudah diajar membaca bibir sehingga mereka tahu apa yang dikatakan. Dengan pertanyaan seputar umur, tempat tinggal, kelas & umur berapa, Yanto dengan fasih menjawab walaupun kata yang terdengar tidak sempurna. Tapi dari sikap tubuhnya dia sangat pede.

 

Murid SLB (seragam batik) sedang mengajar membuat batik

Tidak hanya memamerkan batik, para murid juga mengajak para pengunjung untuk membatik. Yang membuat saya tertarik adalah yang mengajar batik adalah para murid SLB sendiri. Mereka yang notabene tunga rungu dan wicara, dengan antusias mengajar kita. Dengan canting dan kain 20 x 5cm yang sudah digambar pola, hasil batik kami memang jauh dari buatan para murid tersebut.

 

 

 

murid SLB C Dharma Wanita, Bogor & Indonesia Idols

Waktu pentas seni, para pengunjung langsung disajikan dengan aksi permainan angklung para murid SLB C Dharma Wanita, Bogor. Terkesima melihat kualitas lagu yang dibawakan, dilihat dari ketukan dan kekompakan membunyikan angklung, tak kalah dari orang normal. Para bintang tamu dari Indonesia Idol: Monita, Shinta dan Steve pun tak ragu-ragu untuk bernyanyi lagu Delman bersama mereka. Dengan bergoyang kepala dan badannya, para murid sangat kelihatan bersemangat. Tak kalah semangat dengan para murid lainnya dengan performa Band, tarian tradisional seperti Tari Bali & Tari Saman.

Ibu Nippy Infante CK, sang pelatih angklung mengsaya, “Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tidaklah sulit. Ternyata dengan canda, santai dan senang hati, saya dan anak-anak mudah menyatu. Tidak hanya anak-anak yang merasa terhibur, sayapun merasakan hal yang sama.” (*)

Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak yang berkebutuhan khusus pun diajak untuk mendapat hak yang sama dengan anak yang normal.

Ibu VK Deta Dewi S,Pd Guru SLB B Pangudi Luhur mengatakan, “Saya bukan saja belajar secara akademik atau tehnik mengajar yang benar, tapi saya juga belajar tentang hidup Di samping mengajar, memberikan ilmu.. saya juga mau ikut terlibat secara individual dalam proses membimbing dan mendampingi anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk bisa mendapatkan hak-hak yang sama dengan mereka yang normal.” (*)

Normal atau tidak, itu hanyalah penilaian fisik semata. Sudah sepantasnya teman-teman yang berkebutuhan khusus punya peran lebih di masyarakat.

(*) Diambil dari buku acara Malam Apresiasi Seni di Bogor, 12 Desember 2010

Pagar besi tinggi dan kawat berduri menyambut kita, para pengunjung rehabilitasi BNN di Lido, Sukabumi. Sebelum berangkat mengunjungi Rehabilitasi BNN, kita diperingatkan sama panitia acara supaya gak bawa hp, barang-barang elektronik, tidak memberikan dan menerima apapun termasuk nomor HP. Larangan ini membuat kita kepikiran & takut: seperti apa sih keadaan di Rehab BNN itu..

Patung Kebebasan (nama karanganku sendiri)

Disambut oleh patung kebebasan (karangan gw doang sih nama patungnya.. hehehe), kita pun masuk ke ruang pertemuan untuk misa bareng dengan 40an temen-temen penghuni rehab. Mereka mengisi acara dengan bernyanyi lagu rohani, termasuk Sammy, mantan vokalis Kerispatih. Sharing dari dia (dan penghuni lainnya) membuat kita sadar, bahwa rehabilitasi ketergantungan narkoba tidak seseram yang dibayangkan.

Ditambah penyuluhan dari dokter (dari segi kesehatan) dan salah satu pengurus Rehabilitasi BNN (dari segi hukum dan psikologis), yang menerangkan bahwa semua metode yang diterapkan adalah non violence (a.k.a anti kekerasan).

Dari ruang pertemuan, kita lanjut ke asrama pria. Pria bertampang tentara Gurkha yang lalu lalang membuat para peserta takut. Ternyata eh ternyata, doi pengawasnya bo’.. Import langsung dari India.. hehe.. bo’ong deng :D

Kita dikasih juga dikasih liat simulasi pembelajaran tingkah laku di dalam asrama. Quotes positif menghiasi dinding-dinding ruang pertemuan, ruang ibadah & ruang santai.

Ternyata.. rehab BNN tidak seseram yg kita kira. Dan acara pun ditutup dg pengibaran bendera BNN.. ehehehe.. bo’ong lagi..

Pengibaran bendera (pura-puranya)

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.