Malam Apresisasi Seni, 12 Desember 2010, di SKI, Bogor
Sangat terkesan membaca pesan di fesbuk dari Bu Elmi agar saya menuliskan kesan setelah melihat pentas seni dan pameran hasil karya murid-murid SLB (B dan C). Tema yang diusul beliau pun membuatku tertegun : “melihat kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan”
Memang baru pertama kali ini saya melihat langsung pameran hasil karya dan aksi panggung dari murid SLB. Jujur, kesan yang melekat bahwa mereka tidak normal dan perlu perlakuan khusus, masih terbersit di pikiran. Apalagi melihat mereka berbicara dengan bahasa isyarat. Tapi sangat lain rasanya ketika berinteraksi dengan mereka.

Yanto dan Suster pembimbing
Dengan bantuan Suster Irene, saya diajak untuk berbicara sama Yanto, salah satu murid SLB B Pangudi Luhur, Jakarta. Suster mengatakan bahwa Yanto yang tuna rungu sudah diajar membaca bibir sehingga mereka tahu apa yang dikatakan. Dengan pertanyaan seputar umur, tempat tinggal, kelas & umur berapa, Yanto dengan fasih menjawab walaupun kata yang terdengar tidak sempurna. Tapi dari sikap tubuhnya dia sangat pede.

Murid SLB (seragam batik) sedang mengajar membuat batik
Tidak hanya memamerkan batik, para murid juga mengajak para pengunjung untuk membatik. Yang membuat saya tertarik adalah yang mengajar batik adalah para murid SLB sendiri. Mereka yang notabene tunga rungu dan wicara, dengan antusias mengajar kita. Dengan canting dan kain 20 x 5cm yang sudah digambar pola, hasil batik kami memang jauh dari buatan para murid tersebut.

murid SLB C Dharma Wanita, Bogor & Indonesia Idols
Waktu pentas seni, para pengunjung langsung disajikan dengan aksi permainan angklung para murid SLB C Dharma Wanita, Bogor. Terkesima melihat kualitas lagu yang dibawakan, dilihat dari ketukan dan kekompakan membunyikan angklung, tak kalah dari orang normal. Para bintang tamu dari Indonesia Idol: Monita, Shinta dan Steve pun tak ragu-ragu untuk bernyanyi lagu Delman bersama mereka. Dengan bergoyang kepala dan badannya, para murid sangat kelihatan bersemangat. Tak kalah semangat dengan para murid lainnya dengan performa Band, tarian tradisional seperti Tari Bali & Tari Saman.
Ibu Nippy Infante CK, sang pelatih angklung mengsaya, “Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tidaklah sulit. Ternyata dengan canda, santai dan senang hati, saya dan anak-anak mudah menyatu. Tidak hanya anak-anak yang merasa terhibur, sayapun merasakan hal yang sama.” (*)
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak yang berkebutuhan khusus pun diajak untuk mendapat hak yang sama dengan anak yang normal.
Ibu VK Deta Dewi S,Pd Guru SLB B Pangudi Luhur mengatakan, “Saya bukan saja belajar secara akademik atau tehnik mengajar yang benar, tapi saya juga belajar tentang hidup Di samping mengajar, memberikan ilmu.. saya juga mau ikut terlibat secara individual dalam proses membimbing dan mendampingi anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk bisa mendapatkan hak-hak yang sama dengan mereka yang normal.” (*)
Normal atau tidak, itu hanyalah penilaian fisik semata. Sudah sepantasnya teman-teman yang berkebutuhan khusus punya peran lebih di masyarakat.
(*) Diambil dari buku acara Malam Apresiasi Seni di Bogor, 12 Desember 2010
Apa kata teman-teman